Sarjana Sastra Tergusur

 Sarjana Sastra diharuskan belajar beragam karya sastra. Menelaah berbagai naskah-naskah sampai paham betul isi dari naskah yang selesai dibaca. Terbengkalainya sebuah teks akan menjadi sebuah arti bagi sarjana Sastra yang sedang menempuh pendidikan dalam kawah sebuah teks. Orang-orang bilang kawah sastra hanyalah sebagai sebuah ilusi abstrak yang mengkesampingkan sebuah industri. Lebih tepat lagi dikesampingkan. Karena hanya orang-orang ahli hukum dan tata negara yang laku di dalam cakra industri dunia. Sebuah kegelian yang menjamur, pasca dihilangkan pada sarjana Sastra. Seorang profesor dan pakar ilmu sastra memiliki takaran dan prosedural masing-masing dalam menghadapi ragam penuduhan tersebut.

Apakah sebuah dunia ini berlaku bila tanpa teks. Apakah sebuah pidato berlaku bila tanpa teks. Bila berlaku sebuah pidato tanpa teks, tentunya Bung Karno dengan gamblang bicara spontan teks proklamasi tanpa perlu ribet musyawarah dengan golongan taruna. Bagaimana sebuah sejarah tanpa teks, apakah masih terbaca sebuah alur waktu yang penting-penting itu. Sarjana Sastra memang diperlukan menjadi sebuah simbol gugatan. Ada pernyataan berkata, "Sarjana Sastra itu lebih tepatnya menjadi seorang kritikus sastra. Jadi tidak untuk menjadi penulis. Tetapi dicetak menjadi seorang kritikus." kritikus atau badut yang elok digunakan sekiranya untuk menutup pertanyaan itu.

Jika hanya menjadi seorang kritikus, orang di luar yang bukan belajar sastra bisa berhati-hari bicara kritik. Mereka bisa menjadi kritikus yang sangat ambisius pada dunia. Jika hanya menjadi seorang penulis, orang-orang di luar yang bukan pelajar sastra bisa menulis dan menerbitkan buku. Seorang kuli batu, pemadam kebakaran, pembantu. Sekarang mereka bisa menjadi penulis dadakan dan promosi tentang karyanya.

Seniman sekiranya pantas melekat pada sarjana Sastra. Sarjana Sastra yang dibagi menjadi dua tipe: eksentrik dan lembut. Eksentrik: rambut panjang, pakaian jadul, gayanya santai. Lembut: pendiam, acuh, netral, introvert. Makin ke sini makin runyam apa makna dan tujuannya. Tujuan sarjana Sastra itu apakah pasca kelulusan nanti. Kembali ke lingkungan atau jadi orang idealisme yang independen.

Seperti yang dikuatkan pada pandangan nyata, orang-orang yang ikut komunitas belajar menulis, menjadi penulis yang dadakan dan mengalahkan anak-anak sastra dalam hal karya. Seorang jurnalis yang bukan dari hasil ilmu pendidikan sastra, membuat kritik dan argumen dengan mantap  ditambah penggunaan kekayaan bahasa yang mumpuni. Di manakah peran anak sastra, apakah mereka hanya menjadi seorang aktor, yang orang biasa saja bisa melakukannya secara otodidaks.

Dari sini, kejelasan pemahaman sudah dapat ditangkap, bahwasanya sebuah ilmu atau semua ilmu bisa dipelajari dengan otodidaks. Tiada ilmu tanpa buku. Pepatah yang tepat untuk menggambarkan situasi tersebut. Anak-anak sastra, dimana manfaat dan fungsi ilmu kalian setelah lulus dari perguruan tinggi. Sia-sia saja atau hanya menjadi buku yang terbengkalai di dalam sejarah perjalanan manusia. Nampaknya sarjana Sastra benar-benar kehilangan daya guna terhadap perkembangan ilmu sastra. Sastra mengajarkan sebuah ilmu memahami teks dan materi - materi yang dipaksakan menghapal lalu tinggal sepintas saja. Perihal tata guna seorang sarjana masih diragukan kalau hanya bikin ngilu ketika dilihat kembali.


Februari  2021

Komentar

Postingan Populer