Menggugat Penulis Milenial
Penulis milenial adalah penulis yang hampir lupa arah. Katakan pada mereka, mereka telah kehilangan makna. Tulisan mereka hanya berputar-putar dalam masalah: cinta, emosi, dan kesombongan serta gagah-gagahan. Tak bisa ambil pelajaran dari tinggalan pendahulunya. Semestinya mereka pelajari naskah-naskah era sebelumnya. Sebelum keburu-buru bikin puisi atau baca puisi. Sebut saja M. Aan Mansur, menulis buku yang Best seller perihal puisi tentang cinta, ego, dan dirinya. Buat apa menulis catatan pribadi yang tanpa perlu diungkapkan orang lain mengerti kalau dia ingin diperlukan dan diperhatikan. M. Aan Mansur ini orang yang kekurangan orang lain yang perhatian padanya. Hingga dia menuliskan catatan pribadinya dengan bahasa metafor yang berkelok-kelok, lalu tumbang di kalangan remaja. Sehingga kalangan remaja semakin ketagihan kata cinta.
Lalu, ada seorang bocah yang bernama De Putra. Bocah yang berulang kali ikut lomba baca puisi dengan gaya amarahnya. Semua ekspresi puisi dibaca dengan nada tinggi dan keras. Sambil membawakan sikap yang serius dihadapan juri. Dia ini mau baca puisi atau deklarasi, atau deklamasi. Judulnya saja baca puisi, bacanya seperti anak kecil ingin beli permen. Itu saja dia bisa meraih juara, yang tulis juri atau de Putra. Konteks semakin dibutakan dengan kengerian ekspresi yang harus bergerak menggebu layaknya mesin tempur zaman perang itu di ekspresinya saat lomba baca puisi.
Lalu, ada lagi seorang sastrawan muda yang bernama Muhammad Lutfi. Sastrawan yang idealis dengan pendiriannya meneruskan alur teks memperjuangkan. Pertanyaannya, memperjuangkan atau menulis rekayasa. Seperti kita pahami, sastrawan muda kelahiran Pati, Jawa Tengah, ini memang suka bikin puisi tentang nasionalisme. Sedangkan dia sendiri orangnya pendiam dan acuh pada keadaan. Dimana letak matahari karyanya yang selalu berbicara tentang humanisme dan nasionalisme. Apakah dia sendiri melihat fakta dan data di lapangan. Belum ada yang menggugat tentang puisinya yang berbicara tentang manusia. Harusnya dia berani dong, bicara atau menulis tentang suatu gagasan baru seperti tentang pergaulan bebas dan diskriminasi dikalangan wanita tuna susila. Jangan hanya bikin teks yang rasanya basi diulang-ulang.
Sia-sia warisan W. S. Rendra yang masih terbenam di karung bumi pertiwi. Sastra Indonesia masih terasa hambar dengan generasi milenial yang ecek-ecek seperti ini. Bicara Romantis, emosi dan keakuan dalam membaca lomba puisi, lantas menulis sebuah kekosongan. Dimana peran milenial yang lebih menantang dan kritis dalam mengembangkan warisan tekad sastra Indonesia.
2021
Komentar
Posting Komentar