KKN

 Semester 7, sudah saatnya bagi mahasiswa S1 untuk mengikuti program KKN di desa-desa. Mereka harus terjun ke masyarakat dan mencoba hidup kembali ke desa. Sekelompok orang yang terdiri dari 6 mahasiswa dan mahasiswi, bernama Bayu, Vina, Gina, Sela, Apid, Jenar, menjadi satu tim dari fakultas yang berbeda. Mereka adalah kelompok 2 dari posko KKN di Ngawi. Di sebuah desa yang namanya masih dirahasiakan, mereka masuk hutan dan menyeberang sungai untuk sampai di desa itu.

Selama 45 hari, mereka harus melakukan kegiatan KKN dengan lancar tanpa ada keluhan. Jika ada yang tidak sanggup, boleh mengulang semester depan ketika ada KKN. Peraturan memang tegas. Mereka melewati jalan yang berlumpur dan masih berbatu, apalagi ditambah musim hujan yang membuat jalanan becek

Pada pertemuan pertama, mereka bersama kepala dusun untuk menuju posko di rumah yang akan mereka tempati. Sebuah rumah joglo dekat dengan perumahan dan warga yang lain. Selama 45 hari, mereka harus menempati rumah itu.

Pada hari pertama mereka memulainya dengan saling membuat rencana KKN, seperti program pengenalan tumbuhan obat-obatan dan berbagai lainnya. Pemuda dan warga di situ juga ramah pada mereka. Bahkan, timbul saling suka antara Bayu dan Vina.

Apid dan Jenar, dua mahasiswa yang suka bergurau dan bercanda saban hari. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk mendengarkan musik Iwan Fals dan menyanyi bersama untuk mengusir kebingungan.

"Wah, begini ya rasanya KKN, seperti orang kluyuran saja", ucap Jenar.

"Untuk mengisi waktu, kita harus menghibur diri dengan berbagai kegiatan yang bisa kita lakukan untuk menggerakkan badan dan mengisi kekosongan jiwa kita", ucap Apid.

Mereka pun membeli galon air dan membuat rumah itu bersih dengan menyapu.

Memang dua anak muda itu tampak kompak dan selalu bahagia bila bersama. Apid selalu suka berolahraga tiap hari. Sedangkan Jenar selalu suka besajak dan menulis sajak di kertas.

Suatu malam, mereka menonton tv bersama sampai larut malam. Mereka menonton acara humor di tv. Saat jam menunjukkan pukul satu malam, Apid melihat ke dapur, galon air menggelinding sendiri. Kemudian kembali menggelinding lagi. Apid mulai ketakutan dan melihat ke dapur langsung. Ternyata, galon itu masih berdiri seperti semula. Tidak ada yang menggelindingkannya. Sungguh aneh, Apid ketakutan dan mengajak Jenar tidur saja. Apid masih memendam cerita itu dan tidak menceritakannya kepada kawannya.

Esok hari, dia bersikap biasa, tak memberi tahu tentang apa yang terjadi semalam, ingin memendam cerita itu sendiri.

Hari itu, Jenar sedang mencuci pakaian di dekat sumur dan mengambil pakaian dia yang sudah kering. Dia lalu mencoba mencari setrika, tetapi tak ada. Akhirnya dia Melipat baju tadi sendiri. Saat Melipat itulah, dia merasa ada sebuah jarum menusuk jari manisnya. Dia berteriak, menangis sejadinya. Bahkan, dia merasakan ada sebuah jarum mungkin di pakaian yang dia lipat, atau mungkin lebah dan ulat. Tetapi memang tak ada sedikit pun. Hanya ada sebuah pakaian, tanpa jarum dan serangga penyengat. Dia kaget sekaligus menahan panas. Kawan-kawannya pun merasa ada hal aneh dan mengobati luka Jenar.

Malam itu, mereka berkumpul, merasakan sebuah kepahitan, sekaligus keganjalan, serta ada hal misteri lainnya. Vina bercerita, bahwa saat siang hari, dia mencoba menyalakan kipas, dia melihat kipas itu mengarah pada dirinya, dia tinggal menengok ke belakang, ternyata kipas itu sudah menengok ke arah yang lain, posisi kipas berubah. Padahal tak ada orang lain yang bersama Vina saat itu. Bahkan dia merasa ada hal yang bernama horor di rumah itu. Tetapi bagaimana lagi, rumah itu adalah rumah yang diberikan untuk ditempati. Tak ada rumah lain lagi. Mereka akhirnya bersama-sama menyetujui untuk melakukan kegiatan KKN sampai akhir di rumah ini.

Akhirnya mereka bersama melakukan kegiatan untuk esok hari, mencari tanaman obat-obatan di sawah, untuk program sosialisasi KKN. Malam itu, dia melihat dinding pintu tergedor keras, bahkan lebih keras lagi. Malam itu, hanya Apid dan Jenar yang terjaga. Kemudian mereka berdua memulai perbincangan dengan bermain gitar dan merokok. Apid dan Jenar merasa tenang, karena ini adalah kegiatan kelompok dan mereka tidak hidup sendiri di rumah itu. Mereka pun segera mengambil tindakan untuk tidur saja. Daripada nanti ada bunyi ketukan di dinding tanpa wujud lagi.

Genap sudah, 45 hari KKN di Ngawi, mereka berpamitan untuk pulang kepada kepala dusun. Akhirnya, mereka pun bersilaturahmi ke rumah kepala dusun.

"Bagaimana, betah tinggal di rumah itu?" tanyanya.

"Alhamdulillah, betah pak. Baik, nyaman, kok", ucap Bayu.

"Dulu pernah ada anak KKN di sini, juga tinggal di rumah itu, mereka ada yang bisa melihat, ada tiga anak kecil bermain di al mari tv", ucap kepala dusun.

"Wah, saya juga kemaren malam, barusan saja. Mau ke toilet dekat sumur, ada suara seperti sapi melenguh, tapi tak ada wujudnya, lalu pintu kandang ayam digebrak dengan keras, dan bulu saya berdiri semua. Padahal di rumah itu kan tak ada ayam", ucap Jenar.

"Kamu serius, Bro?" tanya Apid pada Jenar.

"Serius Jon. Makanya malam itu aku berlari ke dalam", ucap Jenar menjawab Apid.

"Saat malam itu juga, saya melihat galon menggelinding, seperti dibuat bermain. Tetapi, tak ada yang menggerakkan balon di dapur ketika saya lihat, galon hanya berdiri sendiri", ucap Apid.

"Kok kamu tidak cerita", kata Jenar pada Apid

"Kamu kan penakut, aku takut kamu jadi keder", ucap Apid.

"Wah, sama satu lagi, saat bermain kartu, sekedar buat iseng, malam itu kenteng rumah dihantam pakai pasir. Ngeri", ucap Apid lagi.

"Maka dari itu, saya tak cerita pada kalian tentang rumah ini. Sebenarnya rumah ini sudah tiga tahun kosong, pemilik rumah merantau ke Kalimantan", ucap kepala dusun.

Semua pada keheranan, merasakan ngeri, sekaligus terjawab sudah misteri rumah KKN itu.



2022 

Komentar

Postingan Populer