Artikel Sastra Bandingan
Stereotip Perempuan Terhadap Budaya Patriarki
Dalam Cerpen Pelajaran Mengarang Karya Seno Gumira Ajidarma
dan Cerpen Laila Karya Putu Wijaya
Abstrak
Perempuan dalam kehidupan bermasayarakat dikatakan sebagai makhluk yang lemah. Stereotip yang muncul kemudian dijadikan alat laki-laki untuk melakukan penindasan terhadap perempuan. Dengan adanya situasi itu, kemudian hadir gerakan feminisme yang menuntut adanya persamaan gender dan menghilangkan stigma buruk perempuan. Dalam penelitian ini akan digunakan dua cerpen yang memiliki tema feminisme yang berjudul Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma dan Laila karya Putu Wijaya. Rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini antara lain bentuk stereotip perempuan terhadap budaya patriarki yang terkandung dalam dua cerpen tersebut. Penelitian ini juga akan membahas sedikit tentang analisis sastra bandingan antarpengarang dan antartema karya sastra yang sejenis. Bagaimana perbandingan antartema serta sudut pandang pengarang laki-laki dalam melihat situasi ketidakadilan gender yang dijadikannya karya sastra. Kajian sastra bandingan ini akan dikaji secara sederhana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif karena berbentuk sebuah analisis dan pengaplikasian objek dan data primer.
Kata Kunci: cerpen, feminisme, sastra bandingan, stereotip.
PENDAHULUAN
Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial pada hakikatnya saling membutuhkan satu sama lain. Antarindividu manusia pada dasarnya saling menjalin relasi atau hubungan agar tercipta kehidupan yang seimbang dan saling melengkapi. Relasi antarindividu tersebut akan menjalin sebuah komunikasi yang saling menguntungkan. Komunikasi menjadi sebuah kunci keberlanjutan sebiah hubungan antarindividu. Komunikasi yang lancar dan memberikan output baik antara kedua belah pihak akan memengaruhi kualitas hubungan yang terjalin. Berbanding terbalik apabila kualitas hubungan yang terjalin tidak baik dan tidak terjadi komunikasi yang lancar antara kedua belah pihak maka hubungan antarindividu tersebut mengalami kemunduran.
Gaya komunikasi yang timbul dari seorang perempuan cenderung sopan, mengutamakan intonasi dalam menafsirkan maksud pembicaraan, menimbulkan empati dan juga penuh dengan pertanyaan kepada lawan bicara. Selain itu, perempuan ketika berkomunikasi terutama dengan lawan jenis lebih mengedepankan keintiman, kooperatif, menghindari adanya perbedaan pendapat, dan penuh dengan emosional. Berbeda dengan laki-laki, ketika berkomunikasi mereka cenderung mengedepankan superioritas, logika, serta mengesampingkan emosional dan perasaan yang timbul ketika berkomunikasi (Tannen, 1991).
Berdasarkan pemahaman tersebut, perempuan dianggap dan dipandang sebagai individu yang lemah. Mereka hanya mengedepankan emosi dalam merespon suatu komunikasi dengan lawan bicara. Muncul anggapan bahwa perempuan hanya mengandalkan tangisan apabila menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Stigma masyarakat telah tercipta bahwa seorang perempuan dapat mengekspresikan emosinya dengan tangisan, sedangkan laki-laki tidak diizinkan untuk menangis sebab tangisan adalah simbol dari kelemahan. Dari pandangan tersebut tercipta situasi bahwa seorang perempuan dianggap memiliki kedudukan lebih rendah di bawah laki-laki.
Dari pemahaman yang berlaku di dalam masyarakat tersebut, kehadiran perempuan seringkali tidak dihiraukan. Banyak kasus tindak kekerasan, ketidakadilan sosial, pelecehan seksual yang melibatkan perempuan. Ketidakadilan yang diterima oleh perempuan tersebut dilatarbelakangi oleh akibat dari perbedaan gender. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender sangat beragam, salah satunya adalah stereotip terhadap citra perempuan.
Stereotip dalam ketidakadilan dapat tertuang dalam sebuah cerita pendek atau cerpen. Pengarang menggambarkan tokoh dalam sebuah cerpen dengan wujud imajinatif. Latar belakang pengarang dalam menciptakan dan menggambarkan seorang tokoh dapat muncul dari apa yang mereka rasakan, dan mereka lihat kemudian diolah menjadi karya yang kreatif dan imajinatif. Cerpen dapat berfungsi sebagai kritik sosial, ketidakadilan sosial, kesenjangan sosial, serta transformasi kehidupan masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Oleh sebab itu, penokohan dan jalan cerita pada cerpen sering kali mendekati peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Berdasarkan pemahaman di atas, penulis menggunakan dua objek cerpen yang memiliki karakteristik sama yaitu tentang stereotip perempuan dalam budaya patriarki yang menimbulkan sebuah kesenjangan gender. Meskipun sama, kedua cerpen tersebut memiliki gaya penulisan, sudut pandang yang berbeda karena lahir dari dua pengarang yang berbeda budaya dan latar belakang. Pengarang menggunakan cerpen yang berjudul Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma serta cerpen yang berjudul Laila karya Putu Wijaya. Dalam penelitian ini, penulis akan memaparkan dua pokok permasalahan yaitu, bentuk-bentuk stereotip perempuan dalam budaya patriarki tokoh utama yang menjadi salah satu ciri ketidakadilan gender berdasarkan masing-masing cerpen; selanjutnya akan dijelaskan tentang perbandingan antartema serta sudut pandang pengarang laki-laki dalam melihat situasi ketidakadilan gender yang dijadikannya karya sastra. Selain membahas tentang gender dan ketidakadilannya, dalam penelitian ini penulis akan memaparkan analisis kajian sastra bandingan secara sederhana, yaitu perbandingan antarpengarang berdasarkan latar belakang kehidupannya. Bagaimana cara pengarang dalam memaknai sebuah gender dalam budaya patriarki. Apakah kedudukan perempuan dapat disejajarkan dengan laki-laki, atau tetap tetap di bawah laki-laki. Tulisan ini akan bermuara pada perbandingan antartema serta sudut pandang masing-masing pengarang berdasarkan cerpen yang dihasilkan dalam membicarakan stereotip perempuan yang muncul pada budaya patriarki.
KAJIAN PUSTAKA
Pengaplikasian teori dalam sebuah penelitian ilmiah merupakan hal yang sentral dan wajib dilakukan oleh seorang peneliti. Teori diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan sebuah analisis terhadap suatu objek yang akan diteliti. Dalam ilmu kesusasteraan juga mengenal banyak teori. Untuk keperluan penelitian dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis yang digunakan secara lebih lanjut dalam penelitian ini adalah berbicara tentang stereotip atau kedudukan perempuan dalam budaya patriarki.
Konsep tentang seks dan gender sangat erat kaitannya dengan kritik feminis. Pengertian feminis adalah tentang persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan disemua bidang, terutama di bidang organisasi masyarakat yang berintegritas memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan. Dengan hal itu, maka muncul gerakan feminisme. Gerakan feminisme merupakan gerakan yang bertujuan sebagai bentuk kecaman dan penolakan adanya bentuk perendahan kedudukan terhadap perempuan (Ratna, 2013).
Menurut Fakih, dalam kehidupan nyata sosok perempuan sering mengalami penindasan dan mendapat label negatif karena mengandalkan tangisan sebagai senjata untuk melakukan perlawanan. Perempuan dicap sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Lemah secara emosional dan juga lemah secara fisik. Perempuan dituntut untuk memperjuangkan hak-hak pribadi dan kemerdekaan dalam dirinya. Gerakan feminisme bertujuan untuk menjamin persamaan hak antara perempuan dan laki-laki agar tidak terjadi segala bentuk ketidakadilan dan juga kesenjangan gender.
Selain faktor-faktor di atas, feminisme muncul sebab terdapat beberapa aspek lainnya antara lain, faktor sosial, persamaan hak serta yang paling menjadi pembicaraan hangat adalah faktor agama. Dalam suatu agama disebutkan bahwa kedudukan perempuan tetap di bawah laki-laki. Laki-laki dipandang sebagai pemimpin, dan perempuan sebagai orang yang dipimpin. Hal ini merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kesenjangan dan ketidakadilan dalam gender. Beauvoir mengemukakan pendapat yang cukup kontroversi, yaitu tentang sebuah pernikahan akan menjadikan perempuan berperan sebagai budak laki-laki (Tong, 2008). Feminisme merupakan sebuah bentuk perlawanan dalam hegemoni budaya patriarki yang telah mendarah daging sejak lama.
Feminisme juga bergerak hingga bidang kesusasteraan. Dalam pembahasannya, feminisme di bidang kesusasteraan disebut sebagai kritik sastra feminis. Terdapat batasan dalam hal pemaknaan sebuah feminisme di dunia kesusasteraan. Hal itu diutarakan oleh Culler, tentang feminisme di dunia kesusasteraan. Culler (dalam ‘Membaca sebagai Wanita’) mengatakan bahwa kritik sastra feminis bukan sebagai bentuk kegiatan mengkritiki hakikat seorang wanita, bukan pula tentang kritik terhadap pengarang wanita, melainkan terdapat jenis kelamin yang berhubungan dengan kebudayaan sastra serta kehidupan yang sangat realistis. Hal ini berkaitan dengan praduga dan ideologi atau budaya patriarki yang sangat mendominasi kehidupan perempuan. Hal tersebut yang memengaruhi keadaan sistem komunikasi di dunia kesusasteraan.
Dalam perkembangannya, feminisme dibagi ke dalam empat aliran. Aliran-aliran feminisme tersebut antara lain, feminis liberal, feminis radikal, feminis marxis, serta feminis sosialis. Keempat aliran feminis tersebut berupaya untuk melepaskan diri dari keterikatan dan dominasi laki-laki melalui strategi yang dianut oleh para kaum feminis. Selanjutnya akan dibahas mengenai aliran-aliran feminis, sebagai berikut.
Feminisme Liberal
Aliran feminisme ini lebih menekankan pada kebebasan dan otonomi individu. Kaum liberal mengungkapkan bahwa antara laki-laki dan perempuan terdapat kesamaan hak serta kesempatan menjalankan peran di masyarakat yang sama (Muslimat, 2005). Kesenjangan yang dialami perempuan tersebut dikarenakan stigma masyarakat yang berkembang bahwa secara kodrati, perempuan memiliki daya intelejensi dan kekuatan di bawah laki-laki. Hal tersebut berakar dari norma, tradisi, dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Untuk mematahkan stigma tersebut, seorang perempuan harus membebaskan diri dari belenggu norma dan nilai masyarakat.
Feminisme Radikal
Menurut Sugihastuti dan Saptiawan, aliran ini berpendapat bahwa perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan berakar pada perbedaan psikologi dan biologi. Hal ini yang mendasari terjadinya penindasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, karena laki-laki memiliki genetik yang lebih kuat bila dibandingkan dengan perempuan.
Feminisme Marxis
Menurut Amal, munculnya feminisme marxis bukan terjadi karena kesenjangan antarindividu, tetapi lebih tepatnya karena sistem kelas sosial yang beranggapan wanita diibaratkan sebagai ‘produsen’ yang hanya bekerja di dalam rumah dan menyelesaikan kegiatan rumah. Ruang gerak perempuan menjadi sangat terbatas, hal ini disebabkan karema adanya struktur politik, sosial yang berhubungan dengan sistem kapitalisme.
Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis menganggap ketidakadilan yang dialami perempuan terjadi akibat adanya manifestasi ketidakadilan gender itu sendiri yang merupakan sebuah konstruksi sosial. Untuk itu, dalam feminisme sosialis hal yang harus ditegakkan adalah keadilan bias gender serta perbaikan ideologi dan visi yang dihasilkan oleh masyarakat.
Untuk menganalisis ketidakadilan gender dalam cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira dan Laila karya Putu Wijaya, penulis menggunakan aliran feminis radikal dan juga aliran feminis liberal. Hal itu dikarenakan kedua aliran feminisme tersebut sesuai dengan isi cerpen yang secara gamblang merujuk pada sebuah sistem ideologi patriarki dan norma, nilai-nilai, dan tradisi yang berkembang di masyarakat.
Dalam penelitian ini, selain menggunakan kajian feminisme untuk menjawab rumusan masalah pertama, penulis juga menggunakan kajian sastra bandingan untuk menjawab rumusan masalah kedua yaitu tentang perbandingan sudut pandang pengarang dalam memaknai stereotip terhadap budaya patriarki berdasarkan latar belakang pengarang. Sastra bandingan yang digunakan dalam pembahasan ini merupakan kajian yang sederhana karena hanya melibatkan perbandingan antarpengarang. Pada hakikatnya sastra bandingan merupakan sebuah kajian studi kesusasteraan yang membandingkan dua atau lebih karya sastra dari dua negara yang memiliki karakteristik yang sama, penelitian akan menitikberatkan pada kebudayaan atau across cultural dari suatu negara. Bisa juga disebutkan bahwa kajian sastra bandingan meliputi dua karya sastra yang menggunakan dua bahasa daerah yang berbeda. Kajian sastra bandingan sama halnya dengan kajian intertekstualitas, tetapi dalam sastra bandingan memiliki pembahasan yang lebih luas tidak hanya terpaku pada teks karya sastra.
Pendapat tersebut ditentang oleh Sapardi Djoko Damono. Sapardi berpendapat bahwa kajian sastra bandingan merupakan metode untuk meluaskan pendekatan karya sastra satu bangsa. Satra bandingan dapat digunakan untuk mengkaji karya-karya sesama bangsa, yaitu antarpengarang, antartema, antarzaman, dsb. Penelitian ini secara singkat akan membahas kajian sastra bandingan antarpengarang dan juga antartema dalam cerpen.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-deskriptif. Keluaran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sebuah analisis. Langkah kerja dalam penelitian yang menggunakan metode ini adalah dengan cara memaparkan fakta dan hal-hal penting yang menyangkut objek penelitian (Siswantoro, 2010). Sumber data dan objek material yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cerpen berjudul Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma yang dimuat di Harian Kompas tanggal 5 Januari 1992 dan cerpen yang berjudul Laila karya Putu Wijaya yang dimuat di Harian Kompas pada 8 November 2009. Sedangkan data primer dalam penelitian ini menggunakan kajian feminisme liberal dan radikal serta sastra bandingan secara sederhana.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bentuk Stereotip Perempuan Terhadap Budaya Patriarki Dalam Cerpen Pelajaran Mengarang dan Laila
Sebelum melanjutkan pembahasan secara detail tentang kedua cerpen yang dijadikan sebagai objek penelitian, pertama-tama penulis akan memberikan gambaran dari cerpen tersebut. Cerpen pertama yang akan penulis bahas adalah cerpen yang berjudul Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma (selanjutnya akan disingkat SGA). Cerpen tersebut mengisahkan seorang anak perempuan yang duduk di kelas 5 SD. Anak tersebut bernama Sandra. Alur pengisahan dalam cerpen tersebut menggunakan alur campuran. Cerpen tersebut, Sandra dikisahkan sedang berada di ruang kelas. Ia sedang mengikuti pelajaran mengarang yang diampu oleh Ibu Guru Tati. Ibu Guru Tati menugaskan para siswa untuk menulis karangan tentang keluarga yang bahagia, liburan ke rumah nenek, serta tentang ibu.
Kisah Sandra dimulai, teman-teman Sandra sudah asyik dengan dunia karangan yang sangat nyata dan membahagiakan. Mereka bermain dengan daya ingat dan kemampuan menulis yang masih sederhana. Berbeda dengan Sandra, dia masih termenung dan bertarung dengan pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. Kertas yang dihadapannya masih kosong. Dia tidak tahu harus menulis tentang apa. Dalam kehidupannya, ia tidak mengenal kata bahagia dalam sebuah keluarga. Dia tidak mengenal siapa ayah kandungnya. Kehidupan yang ia jalani tidak jauh dari kecarut-marutan yang diciptakan oleh ibu kandungnya.
Untuk menceritakan tentang pengalaman liburan ke rumah nenek, Sandra tidak pernah melakukannya. Seseorang yang Sandra anggap sebagai nenek adalah Mami. Seorang muncikari yang sering diamanatkan ibu Sandra untuk menjaga Sandra ketika ibunya bekerja. Tidak ada momen yang membahagikan ketika bersama Mami. Cerita tentang seorang ibu, mungkin Sandra bisa menulis karangan tentang ibu. Tetapi ibu Sandra yang bernama Marti adalah seorang pelacur. Apakah pantas, Sandra menuliskan siapa ibu kandungnya? Kehidupan masa kecil Sandra sangat dekat dengan dunia gelap. Setiap hari menyaksikan ibunya pulang larut malam dalam keadaan mabuk, lebih parahnya membawa laki-laki asing tidur di rumah Sandra. Laki-laki itu memperlakukan Marti dengan sangat kasar. Menendang, memaki dengan kata kasar, bahkan meludahi Marti setelah melakukan hubungan intim. Semua peristiwa kelam disaksikan Sandra setiap hari. Dalam akhir cerita, digambarkan Sandra harus menulis tentang apa. Hingga akhirnya, Ibu Guru Tati mendapati pekerjaan Sandra dengan bertuliskan “Ibuku Seorang Pelacur”.
Cerita kedua adalah cerpen Laila, cerpen karya Putu Wijaya ini mengisahkan tentang tangisan Laila yang merupakan seorang asisten rumah tangga dari tokoh “Aku”. Laila merupakan korban penindasan suaminya sendiri yang bernama Romeo. Kehidupan Laila penuh dengan air mata. Ia harus berjuang mencari nafkah dan juga harus membesarkan anak semata wayangnya yang bernama Arjuna. Beruntung Laila bekerja dan mendapatkan majikan yang sangat baik. Tokoh “aku”dan “istrinya” sangat perhatian dengan Laila dan Arjuna. Laila tidak bisa lepas dari suaminya sebab ia berkeyakinan harus selalu berbakti kepada suaminya, meskipun ia sangat tertindas. Laila meyakini bahwa dengan berbakti kepada suaminya, ia akan dengan mudah untuk masuk ke surga. Cerpen Laila dikisahkan menggunakan alur maju. Penggambaran kehidupan Laila sangat runtut dan detail. Tercipta sebuah kontradiksi antara tokoh Laila dengan tokoh Istri. Meskipun mereka sama-sama perempuan, mereka menunjukkan karakter dan pembawaan yang sangat berbeda. Laila digambarkan sebagai sosok perempuan yang lemah lembut, memiliki daya emosional yang tinggi karena selalu menghadapi permasalahan dengan tangisan. Berbeda dengan tokoh istri. Dia digambarkan sebagai wanita yang kuat, mandiri dan sangat disiplin.
Pembahasan selanjutnya akan dilanjutkan dengan menganalisis bentuk stereotip yang muncul dari kedua cerpen tersebut. Stereotip adalah sebuah penandaan dalam kelompok tertentu, salah satunya mengenai gender. Penandaan yang dilakukan masyarakat terhadap perempuan akan menimbulkan dampak ketidakadilan bagi perempuan serta menciptakan kerugian secara individu. Stereotip ini muncul dari perilaku dan stigma masyarakat yang telah berkembang. Perempuan dianggap lemah, tidak dapat hidup tanpa laki-laki, tidak dapat mengerjakan pekerjaan laki-laki dan selalu direndahkan. Fenomena ini semakin parah dengan adanya budaya patriarki, yang mana kedudukan laki-laki di tengah masyarakat menjadi semakin kuat dan mendominasi. Nilai-nilai dan norma tradisional juga lebih cenderung berkiblat pada kekuatan laki-laki dan kelemahan yang ditimbulkan oleh perempuan.
Stereotip sebagai Wanita yang Lemah
Tokoh Marti dalam cerpen Pelajaran Mengarang merupakan contoh dari stereotip kelemahan wanita. Kelemahan seorang wanita dilihat dari bagaimana seorang wanita tersebut menghadapi permasalahan, selain itu stereotip disimbolkan dengan respon tangisan dari seorang wanita. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Marti merupakan bagian dari stereotip tersebut.
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh Marti seakan-akan tidak kuat menahan beban hidup yang dilaluinya. Ia hidup dalam balutan dosa, terkungkung dalam dunia gelap, dan selalu ditindas oleh lelaki hidung belang yang menyewa Marti sebagai teman tidur atau sekadar untuk menemani mereka minum. Marti mengalami ketidakadilan gender sebab selalu dianggap rendah di mata masyarakat. Profesinya sebagai wanita malam yang menyebabkan ia mengalami ketidakadilan tersebut. Marti hidup dalam penyimpangan nilai dan norma serta tradisi masyarakat. Satu-satunya sumber kekuatan tokoh Marti lahir dari seorang Sandra yang merupakan anak semata wayangnya. Sandra menciptakan kebahagiaan di tengah ketidakadilan yang dirasakan oleh Marti. Meskipun kadang Marti merasa jengkel dan keluar kata-kata kasar terhadap Sandra, karena merasa tidak siap memiliki anak hasil dari hubungan gelap. Kutipan yang menjadi pendukung dari pernyataan tersebut adalah
Tokoh kedua yang mengalami stereotip sebagai perempuan yang lemah adalah Laila dalam cerpen Putu Wijaya. Laila mengalami penindasan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Permasalahan Laila sangat pelik hingga dia hanya bisa menangis. Laila mengalami ketidakadilan gender secara domestik. Laila tidak bisa melawan atas tindakan yang dilakukan oleh suaminya. Kutipan teks dari cerpen tersebut adalah
Budaya Patriarki yang Memunculkan Stereotip Perempuan Lemah
Stereotip yang muncul dari karakter tokoh di atas muncul dengan adanya budaya patriarki yang sudah mengakar dan berkembang di kehidupan masyarakat. Lelaki memiliki kuasa untuk mengatur segala kehidupan perempuan. Kaum lelaki dijadikan pihak yang paling dominan dalam kehidupan perempuan. Bisa dikatakan bahwa laki-laki memiliki kekuatan yang didukung oleh norma dan nilai yang berlaku di masyarakat sebagai seorang pemimpin. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang, budaya patriarki tidak ditampakkan secara langsung. Patriarki seorang laki-laki muncul secara tersirat dalam tangisan Marti. Tangisan Marti disebabkan oleh beban ekonomi yang menjerat dan perasaan merasa berdosa karena telah memilih pekerjaan haram. Marti tidak memiliki sosok laki-laki yang dijadikannya sebagai tempat berlindung. Tubuhnya hanya dimanfaatkan laki-laki untuk memuaskan nafsu dan kebutuhan psikologis. Marti mengalami ketimpangan batin dan ketidakadilan gender. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang, citra perempuan disamakan dengan barang. Laki-laki berhak memilih perempuan mana yang akan mereka sewa sebagai alat pemuas nafsu. Hal ini terlihat dari kutipan berikut.
Budaya patriarki dalam cerpen Laila lebih terlihat dari dialog antartokoh Laila, tokoh Aku dan Istrinya. Tangisan yang keluar dari air mata Laila merupakan hasil dari penerapan budaya patriarki yang dilakukan oleh suaminya. Suami Laila yang bernama Romeo merupakan suami yang tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan rumah tangga. Laila mengerjakan pekerjaan laki-laki sebagai pencari nafkah. Kesenjangan gender terjadi pada bagian ini. Suami Laila disebutkan sebagai pelaku ketidakadilan. Laila dikuasai suaminya dengan sepenuhnya, menyebabkan ia harus mengemban peran ganda dalam kehidupan berumah tangga, yaitu sebagai pencari nafkah serta sebagai ibu rumah tangga. Dalam budaya patriarki laki-laki menjadi sosok adikuasa dalam rumah tangga, mereka merasa memiliki hak untuk mengatur apa saja yang dilakukan istri dan anaknya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan di bawah ini.
Dari pembahasan dan analisis struktural cerpen feminisme di atas dapat disimpulkan bahwa stereotip yang dialami oleh seorang perempuan dapat dilatarbelakangi dengan berkembangnya budaya patriarki dalam masyarakat. Nilai, norma dan tradisi yang menilai figur laki-laki sebagai pemimpin yang menjadikan kehadiran perempua sering mendapat stigma negatif. Perempuan dianggap sosok yang lemah, bergantung dengan laki-laki, dan bisa dengan mudah dikuasai laki-laki. Dengan maraknya keadaan semacam ini, para kaum feminis liberal melakukan pergerakan dan perjuangan untuk mendapatkan hak dan kesetaraan yang sama di antara laki-laki dan perempuan. Feminisme liberal tidak menolak adanya ikatan perkawainan atau hubungan antara laki-laki dan perempuan tetapi menolak aturan dan nilai-nilai yang seakan-akan menjadikan laki-laki sebagai kaum dominasi dan berkuasa yang akan membuat perempuan merasa kehilangan hak dan kesetaraan. Selain itu, gerakan muncul dari kaum feminisme radikal. Kaum feminisme radikal justru menentang adanya pernikahan dan hubungan keterikatan antara laki-laki dan perempuan. Mereka berpendapat bahwa hubungan yang terjalin antara kedua belah pihak akan menimbulkan ketidakadilan yang tentu saja akan merugikan perempuan.
Perbandingan Antartema dan Sudut Pandang Pengarang Laki-Laki Dalam Melihat Situasi Ketidakadilan Gender yang Dijadikan Karya Sastra
Pada sub bagian ini akan penulis akan membahas tentang perbandingan antartema dalam ke dua cerpen yang dijadikan objek penelitian, selain itu akan dijelaskan tentang sudut pandang pengarang laki-laki dalam melihat adanya situasi ketidakadilan gender yang dijadikan karya sastra. Dalam analisisnya, penulis menggunakan kajian sastra bandingan yang dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono. Sapardi mengemukakan bahwa yang bisa dikatakan sebagai kajian sastra bandingan tidak hanya membandingkan karya sastra dari dua negara ataupun yang memiliki perbedaan bahasa. Sastra bandingan yang paling sederhana bisa dimulai dari membandingkan tema yang diangkat antarkarya serta perbandingan pengarang yang menghasilkan karya dan memiliki karakteristik yang sama (Damono, 2005).
Perbandingan Antartema dari Cerpen Pengalaman Mengajar dan Laila
Pembahasan dimulai dengan perbandingan antartema dari dua cerpen tersebut. Tema utama yang diangkat dari kedua cerpen tersebut adalah tentang feminisme liberal dan feminisme radikal dan ketidakadilan gender yang timbul dari adanya budaya patriarki dalam masyarakat. Cerpen Pelajaran Mengarang menghadirkan tokoh Sandra sebagai anak kelas 5 SD yang menjalani hidup dalam kebingungan. Dia jarang mendapatkan kebahagiaan keluarga seperti anak-anak seusianya. Tema penindasan terhadap perempuan dituliskan secara implisit. Ketidakadilan secara implisit digambarkan dengan karakter tokoh Marti, yaitu ibu Sandra yang berprofesi sebagai pelacur. Penerapan budaya patriarki muncul dari tindakan laki-laki sebagai pengguna jasa Marti. Marti seringkali dijadikan alat pemuas laki-laki hidung belang. Kehadirannya disamakan dengan barang yang kapan saja dan di mana saya dapat mereka sewa. Marti mengalami ketimpangan dalam batin. Ia meneima pekerjaan seperti itu karena himpitan ekonomi. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya karena memang tidak ada lelaki yang bekerja mencari nafkah. Para laki-laki yang selama ini memindasnya sebagai sumber penghasilan untuk menghidupi Sandra, anak semata wayangnya.
Berbeda dengan tokoh Laila dalam cerpen Putu Wijaya. Laila dikisahkan sebagai sosok wanita yang lemah. Ia selalu mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari suaminya sendiri. Laila mengalami ketidakadilan gender secara domestik. Dalam kehidupan pernikahannya. Ia brperan sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai pencari nafkah. Suami Laila tidak mau menyukupi nafkah keluarganya. Dalam kehidupan sehari-hari, suami Laila hanya mengatur tanpa mau bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya. Namun Laila merasa berat apabila harus lepas dari suaminya, karena ia berkeyakinan bahwa patuh kepada suami adalah jalan dia agar dapat masuk surga. Stereotip dalam karakter Laila dimunculkan secara eksplisit karena perlakuan tokoh lain yaitu suaminya sendiri.
Sudut Pandang Laki-Laki Dalam Melihat Situasi Ketidakadilan Gender dalam Karyanya
Feminisme merupakan hal yang sangat sering menjadi pembahasan di dunia sosial. Hal ini juga berpengaruh terhadap penciptaan karya sastra dikalangan pengarang. Mereka menciptakan karya sastra untuk mengkritisi ketidakadilan sosial dan kecarut-marutan kehidupan yang sering terjadi di sekitar mereka. Dalam hal ini, Seno Gumira Ajidarma merupakan penulis novel dan cerpen yang sering mengangkat dunia perempuan, feminisme, maskulinitas, dan ketimpangan sosial. Dalam cerpen ini, SGA mengarahkan sudut pandang feminisme dari kehidupan sosial dan juga ekonomi. Cerpen yang ditulis SGA ini mengambil sudut pandang pendidikan, dan disatukan dengan unsur tabu tentang dunia ‘pelacuran’ yang sering kali dimenaragadingkan. SGA mencoba mengungkap realita sosial yang seringkali tidak terendus dan tersentuh di dunia masyarakat. SGA berusaha membuka tabir kenyataan yang sering disembunyikan lembaga-lembaga sosial untuk membangun kesan yang baik. Cerpen Pelajaran Mengarang menghadirkan dunia gelap pelacuran ke hadapan pembaca secara gamblang yang dibungkus dengan tema pendidikan. Dua hal yang sangat kontradiksi antara dunia pelacuran dan dunia pendidikan dapat dihadirka dalam satu bingkai cerita oleh SGA. Cerpen ini bertujuan untuk memberikan pembelaan terhadap perempuan sebagai pihak yang selalu tertindas atas ketidakadilan laki-laki dan juga beban ekonomi yang mereka jalani.
Hadir dengan cerpen yang bertemakan feminisme, Putu Wijaya memiliki sudut pandang yang berbeda dengan SGA. Secara garis besar, cerpen Laila menceritakan tentang perjuangan seorang Laila dalam mempertahankan rumah tangga dan kelanjutan hidupnya. Laila mengalami ketidakadilan domestik dari suaminya sendiri, suami yang ia pertahankan tidak memenuhi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, sehingga Laila harus mengemban predikat sebagai pencari nafkah sekaligus ibu rumah tangga. Laila berkeyakinan dengan mengabdi sebagai istri yang baik maka dia akan mendapat surga di akhirat kelak. Alasan tersebut yang melatarbelakangi Laila tidak lepas dari suaminya. Tetapi pada bagian akhir cerita, dikisahkan bahwa tokoh Aku dan istrinya berhasil membujuk Laila agar berpisah dengan suaminya. Keputusan Laila sudah mantap untuk berpisah dengan suaminya, namun masih ada hal yang masih berkecamuk dalam batinnya, yaitu ia tidak bisa masuk surga karena dia merasa tidak patuh terhadap suaminya. Dari gambaran cerpen Laila tersebut dapat diketahui bahwa Putu Wijaya menggunakan sudut pandang keagamaan untuk mendukung tema utama, yaitu feminisme. Sudut pandang keagamaan dapat diidentifikasi berdasarkan akhir cerita tersebut. Di mana Laila tidak ingin terbebas dari suaminya karena dia tidak mau berdosa, sehingga ia tidak bisa masuk surga. Putu Wijaya menghadirkan pergolakan batin pada tokoh Laila. Stereotip sebagai wanita yang lemah dapat dihilangkan Putu Wijaya di akhir cerita. Laila berubah menjadi wanita yang berani dan mau mengambil keputusan untuk meninggalkan suaminya. Tetapi masih ada satu kerisauan Laila yaitu kekhawatirannya tidak bisa mencium bau surga karena telah ingkar dengan suaminya. Hal tersebut merupakan implementasi ketidakadilan yang telah terpaku dalam diri Laila berdasarkan pengalaman nilai, norma dan pengetahian keagamaan yang Laila dapatkan di kehidupannya.
PENUTUP
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah disajikan di atas, maka penulis memperoleh simpulan bahwa dalam cerpen Pelajaran Mengarang karya SGA dan Laila karya Putu Wijaya sama-sama mengangkat tema feminisme dan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender dari cerpen Pelajaran Mengarang muncul stereotip wanita yang lemah dan budaya patriarki dari tokoh Marti. Marti mengalami ketidakadilan gender dari luar, yaitu dari laki-laki yang sengaja menyewa jasanya sebagai alat pemuas seks. Marti diibaratkan sebuah benda yang bisa saja mereka pakai kapanpun mereka membutuhkan. Selain itu, dari cerpen Laila, stereotip terhadap budaya patriarki muncul dari penceritaan tokoh Laila itu sendiri. Laila menjadi korban ketidakadilan dari suaminya yang tidak mau bertanggungjawab atas kehidupan rumah tangganya. Penyelesaian ketidakadilan dalam gender pada dua cerpen ini dapat diselesaikan dengan penerapan feminisme liberal dan radikal.
Tema utama yang diambil dalam ke dua cerpen tersebut merupakan tema feminis. Tetapi masing-masing cerpen memiliki cara yang berbeda dalam memunculkan tema tersebut. Cerpen Pelajaran Mengarang memunculkan tema feminisme secara implisit dan tidak secara gamblang, tetapi pada cerpen Laila pemaparan tema dimunculkan secara eksplisit dan nyata. Ketidakadilan gender terlihat sangat jelas berdasarkan dialog antartokoh. Sudut pandang pengarang dalam memandang feminisme juga sangat berbeda. SGA lebih menerapkan sudut pandang feminisme dari segi sosial dan ekonomi tokoh utama. Sedangkan Putu Wijaya, ia lebih memandang feminisme dari sudut pandang keagamaan dan juga nilai, norma serta tradisi yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Amal, Siti Hidayati. (1995). Beberapa Perspektif Feminis dalam Menganalisis Permasalahan Wanita dalam Ihromi T.O (ed). Kajian Wanita dalam Pembangunan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Asmaradana, Aura. (2017, Juli 2). Tanggapan Atas Perempuan-Perempuan (Ciptaan) Seno Gumira Ajidarma. Kompasiana. Diakses dari http://www.kompasiana.com/aaasmaradana/
Damono, Sapardi Djoko. (2005). Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
Fakih, Mansour. (1996). Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Juliani, Farahanna. (2018). Perjuangan Perempuan dalam Novel Para Pawestri Pejuang Karya Suparto Brata dan Novel God’s Callgirl Karya Carla Van Raay (Kajian Sastra Bandingan). ELite Journal : International Journal of Education, Language, and Literature E-ISSN 2621-8127 Vol. 1, No. 2, February 2018, pp. 24 – 32. Diakses dari http://journal.unesa.ac.id
Muslimat. (2005). Citra Wanita dalam Cerita Rakyat Makassar: Suatu Tinjauan Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Novianti, Ida. (2010). Subordinasi Peran Sosial Perempuan (Analisis Terhadap Cerpen Laila Karya Putu Wijaya). Jurnal gender dan Anak Vol.5 No.2 Jul-Des 2010 pp.284-297. Diakses dari http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id
Ratna, Nyoman Kutha. (2013). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Siswantoro. (2010). Metode Penelitian Sastra; Analisis Struktur Puisi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Sugihastuti dan Itsna Hadi Saptiawan. (2007). Gender dan Inferioritas Perempuan: Praktik Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tannen, Deborah. (1991). You Just Don’t Understand: Women and Men in Conversation. New York: Ballantine Books.
Tong, Rosemarie Putnam. (1998). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Bandung: Jalasutra.
Yanita, Alvi. (2019). Analisis Gender Cerpen Gadis Pakarena Karya Khrisna Pabichara. Jurnal Universitas Negeri Makassar. Diakses dari http://eprints.unm.ac.id
Komentar
Posting Komentar