Naskah Sandiwara

 Naskah Drama 1 babak

Meraih Impi

(Karya: Muhammad Lutfi)


Ini kisah tentang seorang budak di zaman Belanda yang menjadi pembantu di rumah seorang pejabat tinggi VOC yang bernama Van Moor. Lelaki berwajah tampan, yang juga telah kehilangan keluarganya di Bali semenjak dia kecil, kini telah menjadi remaja yang semakin menunjukkan kecerdasannya. Diam-diam Untung dijadikan anak murid oleh Kiai Embun. Seorang guru yang mengajarkan agama, silat, dan tentang jati diri seorang pribumi kepada Untung.

(Untung berjalan sendirian di tengah malam)

Untung : Aku ini masih merasakan jiwa tanah Bali mengalir dalam diriku. Aku merasa seorang telah mengasuhku dengan kasih sayang, walau aku telah kehilangan orang tua, tapi aku dapat berteman dengan Suzan yang jelita itu. Kini juga, aku semakin terang dalam menjalani hidup. Karena aku telah menemukan seorang yang dapat menghilangkan kebodohan-kebodohan dan kehampaan dalam diriku ini.

(Berjalan di depan Untung, seorang lelaki dengan tongkat di tangannya)

Untung : Siapa kamu? Tengah malam berjalan sendirian, pakai tongkat pula.

(Untung mengamatinya makin tajam dan makin dalam)

Untung : Kiai Embun, aku kira itu bukan kamu.

Kiai Embun : Untung, tengah malam ini berjalan kita bertemu di jalan ini. Malam ini kita dipertemukan kembali Untung. Kamu yang memiliki tekad dan kemauan untuk melangkah dan belajar, memang pantas menjadi tauladan yang baik. Kamu sudah seperti cucuku sendiri. 

(Untung memberikan salam dan hormat pada Kiai Embun. Pemuda itu menyentuh kaki Kiai Embun)

Kiai Embun : Untung, aku tahu jiwamu yang ingin bebas dan memerdekakan dirimu dari tekanan.

Untung : Aku kini lebih ingin berlari dari sini, daripada bertahan dalam tekanan dan tidak tahan seorang diri.

Kiai Embun : Bersabarlah Untung, jangan tergesa-gesa. Aku tahu engkau lebih suka untuk hidup bebas daripada jadi seorang yang selalu dicurigai dan diawasi.

Untung : Saya ini seorang yang suka dengan kedamaian dan tidak suka perpecahan antar saudara sebangsa. 

Kiai Embun : Jiwamu memang tulus dan begitu halus sekali Untung. Itu yang aku sukai dari dirimu.

Untung : Kalau memang seorang pemberani harus berperang dengan tangan, maka aku lebih suka untuk merangkul mereka daripada panas-panasan membakar jiwa sendiri.

Kiai Embun : Kelak ketika kamu jadi orang besar, kamu akan mengemban tanggungjawab yang besar. Kamu harus memiliki bekal untuk itu Untung.

Untung : Hanya Kiai Embun yang dapat membimbing saya ke jalan yang benar.

Kiai Embun : Percayalah pada kekuasaan Allah, Gusti Pangeran yang Maha Tinggi kedudukannya. Gusti Allah selalu berada di sampingmu Untung.

Untung : Saya yang masih bodoh dan lemah ini, mohon petunjuk Kiai Embun untuk ke depannya.

Kiai Embun: Tidak ada yang mustahil bila Gusti Allah sudah berkehendak, Untung. Percayalah pada dirimu sendiri dan gurumu ini. Aku selalu berada di sampingmu.

Untung : Kalau memang saya harus minggat dari Batavia, saya pun sudah siap.

Kiai Embun : Berpikirlah dua kali untuk menentukan keputusan dan jalan hidupmu. Jangan suka menuruti emosi dan pikiran yang kacau.

Untung : Bawalah saya bersama Kiai. Bawalah saya bersama dengan Kiai di manapun berada.

Kiai Embun : Bawalah kantong hitam ini sebagai kalungmu, Untung. Sekarang, ikutlah aku ke Depok!

Untung : Apakah tuan saya tidak mencari saya? Saya khawatir Kiai.

Kiai Embun : Tidak ada yang mencarimu Untung. Selama bersamaku, kamu aman.

(Kiai Embun dan Untung berjalan meninggalkan jalanan)

Untung dan Kiai Embun pindah ke gubuk dan menemukan jalan hidup mata budaya Jawa di hadapan Kiai Untung. Kiai Untung memberikan untung sesuatu yang tidak boleh sampai lepas dari tangan Untung.

Kiai Embun : Untung, jangan pernah lepas ini dari dirimu. Peganglah itu erat seperti kau memegang jalan dirimu. Ketika nanti engkau membutuhkanku, maka cukup saja bayangkan wajahku.

Untung : Kiai Embun, saya ini pribumi yang lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk berjuang.

Kiai Embun : Untung, jangan merendahkan dirimu dan jangan pernah menghinakan dirimu. Engkau telah dicipta sebagai manusia, mahluk yang sempurna di bumi ini, jika kau tidak percaya pada dirimu, maka kau tidak percaya padaku dan pada Allah. 

Untung : saya ini hanyalah murid dari, tuan.

Kiai Embun : Untung, berdirilah! Kini kau telah jadi pembela negara hari ini. Kau bukan keturunan sudra seperti kata orang-orang. Untung, kelak nama pangeran dari negeri di sebelah barat akan melekat padamu. Namamu melekat dalam sejarah sebagai Untung Surapati.

Untung : Saya merasa tidak pantas menyandang nama besar seperti itu.

Kiai Embun : Kamu pantas, Untung. Kamu pantas, kamu layak memakai nama itu. Itu nama yang pas untukmu. Politik dan hukum di dunia ini dibangun di atas logika manusia. Logika manusia jangan pernah dilupakan. Untung, aku tahu kau setelah kuberikan sesuatu tadi, maka rasa minder dan takut itu akan memudar dari dirimu perlahan. 

Untung : Saya hanya ikut kata dari Kiai Embun saja.

Kiai Embun : Sekarang berdirilah!

Lampu menjadi gelap. Latar waktu berubah ke pagi hari, suara lesung dan ayam jantan berkokok.

(Untung berjalan menuju ke rumah Belanda. Seorang wanita seumuran Untung dengan rambut pirang menyambut Untung.)

Suzana: Hai Untung, darimana kau semalaman tidak keluar. Hampir saja para penjaga mencari keberadaanmu. Aku takutkan kau dipenjara oleh Van Moor.

Untung : Maaf, Nona. Saya hanya berjalan-jalan saja setelah mengurus kuda dan mempersiapkan perdagangan hari ini berlayar ke negeri Mataram.

Suzana : Untung, kini kau harus lebih waspada. Jangan lagi ulangi perbuatanmu itu. 

Untung : Pasti, Nona. Saya ini hanya pegawainya Van Moor.

Suzana : Sekarang, kau bisa angkat karung-karung itu ke atas delman. Van Moor menyuruhku menemani kamu, dan sekarang persiapkan dirimu!

Untung : Nona, saya ingin segera persiapkan diri dahulu. Saya mau mengemasi barang-barang saya yang ingin saya bawa.

Suzana : Untung, cepat, cepatlah Untung!

(Untung berjalan menuju ke belakang. Di gudang lusuh samping rumah dan segera mengemasi barang-barang milik Untung. Untung membawa sesuatu yang diberikan oleh Kiai Embun)

Suzana : Untung… kemari segera! 

Untung : Iya, Nona.

(Untung berjalan menuju depan rumah dan nampak kalung hitam mengkilat di leher Untung. Mata Suzana menyalak tajam memandang kalung di leher Untung.)

Suzana : Hari ini aku terpesona pada dirimu yang berbeda. Sesuatu benda warna hitam itu apakah itu sesuatu yang kau beli dari perdagangan?

Untung: Tidak, Nona. Saya hanya mendapatkannya dari seseorang. Saya hanya ingin mendapatkan cinta dari seseorang itu.

Suzana: Kau lebih menawan memakai kalung itu.

Untung : apakah persiapan berangkat bisa kita segera mulaikan?

Suzana: aku hanya ingin membawa kucing ini bersamaku juga. Ambil dan angkat kucing ini, aku ingin membawanya ke Mataram.

Untung : Mimpi saya menuju ke Mataram memang sudah dahulu saya inginkan.

Suzana: Untung, apa kau punya tujuan lain di Mataram?

Untung : Tidak, Nona. Mataram adalah negeri besar di Jawa. Saya hanya ingin melihat kemakmuran dari Mataram.

(Untung teringat pesan dari Kiai Embun lirih-lirih. Saat itu, sejak fajar belum memunculkan terbit surya, suara dari Kiai Embun menusuk telinga Untung untuk segera menghubungi petinggi Mataram dan memberikan surat dari Kiai Embun)

Untung : Nona, semuanya sudah siap. Saya siap untuk berangkat.

Suzana : Mulai Untung. Pecut kuda itu menuju jalan!

Untung : Saya segera berangkat.

(Pecut delman bersuara. Langkah pedate bergerak menuju Pelabuhan Batavia)

Latar tempat berubah, suasana di dermaga Batavia. Untung membawa sebuah koper dan satu bantalan kain sarung di lengan kanannya. 

Untung : Ombak dermaga menggema, angin lautan sungguh kencang, burung merpati menghiasi udara, aku inginkan melihat bintang berpijar di Mataram.

Suzana : Untung, segera naikkan koper dan kucing itu. Ayo segera!

Untung : Wah, begini ternyata kapal besar yang sering dinaiki oleh Belanda. Saya takjub.

Suzana : Ini belum seberapa Untung, masih banyak transportasi lain yang lebih hebat dan megah dari kapal ini. Dan perlu kau tahu, inilah kapal milik Van Moor.

Untung : Angin berlabuh kencang, seperti bunyi tabuh siul dari kicau seorang wanita.

Suzana : Kau paham betul, kata-kata indah seperti itu Untung.

Untung : Tidak, saya hanya mencoba berkata apa adanya saja.

Suzana : Sekarang berlarilah berjalan menuju jalan yang menyatukan kita.

Untung : Sekarang aku telah berlayar ke samudera. Maka seperti lautan biru, aku juga punya keinginan dalam pada diriku ini.

Suzana : Lalu diriku?

Untung : Engkau seperti awan di hari ini, putih dan berembun seperti segala sesuatu yang aku lihat putih.

Suzana : Menarilah Untung, aku juga akan menari bersamamu. Lihatlah kedalaman laut biru itu.



Berlayar sebuah kapal menuju ke Banten. Dari jauh, nampak mobil Pak Karno menyalakan sirine yang nyalang dan ganas dengan segala kehormatannya di para ajudannya. 

Ajudan: minggir, ini seorang raja besar mau lewat, beri jalan! Jangan dipangkas jangan ditutup!

Pak Karno: Kamu jalan kaki saja, aku dari sini ingin menyapa mereka itu, mana rakyatku! Mana rakyatku! 

Ajudan: kamu itu jangan duduk di situ, aku bawa senapan laras panjang ini tidak hanya sendirian. Teman-temanku loreng itu juga lengkap bawa senapan. Aku tembak kamu mati di sini!

Pak Karno: begini saja, kamu jangan garang bagai macan walau loreng di depan mata rakyatku. Singkirkan wajah haus darah itu.

Kapal yang berlabuh di Banten, menurunkan sebilah papan dan tambatan tali di sebuah papan besi. 

Ceng Ohkon: Haiya, haiya, ini saya baru turun dari kapal, sambutannya sungguh meriah, mengagumkan, mengesankan, tuan-tuan.

Ajudan: kamu orang Cina, calon cukong atau mau ada tujuan lain di negeri kami ini?

Ceng Ohkon: sudah tiada ingin saya dalam hati untuk melakukan niatan tak baik seperti itu, tuan sungguh telah salah sangka pada saya ini, saya orang baik, sungguh, saya orang baik.

Pak Karno: memang tuan dari Cina ke sini dengan tujuan apa?

Ceng Ohkon: Saya ingin bertemu dengan tuan Sukarno, saya sangat mengagumi tuan di Cina, sampai jauh-jauh saya ke sini.

Pak Karno: (Tersenyum) apa yang membuat saya menjadi pesona bagi tuan?

Ceng Ohkon: Senyuman tuan, pemikiran tuan, haiya, saya kagumi, saya kagumi sungguh tuan. Saya ke sini jauh-jauh datang dari negara tirai bambu ingin bertemu dan memeluk tuanku Sukarno.

(Sukarno menatap tajam Ceng Ohkon lalu menepuk pundaknya)

Pak Karno: aku ucapkan terimakasih tuan telah mengagumi saya ini, saya hanya seorang hamba biasa, saya hamba rakyat dan tentu saya senang bertemu tuan jauh-jauh datang ke sini.

Ceng Ohkon: (Mengepal tangan memberikan salam) terimakasih tuan, haiya, terimakasih, saya ke sini tentu tidak dengan tangan kosong, ada buah tangan dari sana saya bawa ke sini. Tuan, tuan yang berbahagia, aku mencintai tuan dengan segala pemikiran tuan yang berbuah segar itu di Indonesia.

Pak Karno: saya bermaksud ingin menganggap tuan ini sebagai saudara, kalau boleh tahu, siapakah nama tuan ini?

Ceng Ohkon: nama saya Ceng Ohkon, orang pedagang tembakau saja tuan, tak pantas bertemu tuan yang hebat ini.

Pak Karno: tentu tuan sudah tahu namaku ini.

Ceng Ohkon: Panggil saya Ohkon saja tidak apa-apa tuan, saya sangat senang jika tuan menganggap saya sebagai saudara.

Pak Karno: apa tuan Ohkon ada saudara di Indonesia ini?

Ceng Ohkon: Untuk saat ini, saudara saya hanya tuanku Soekarno. Saya datang sendiri  ke sini.

Pak Karno: apa belum ada istri?

Ceng Ohkon: saya sudah kehilangan istri dan anak perempuan saya setelah sebuah wabah di negeri saya.

Pak Karno: lalu kau memutuskan untuk bekerja sebagai penjual cengkeh-cengkeh?

Ceng Ohkon: saya sudah putuskan untuk berjaualan ini tuanku, persis harapan tuan. Saya bawa racikan cengkeh-cengkeh ini untuk Indonesia.

(dalam hati Soekarno menaruh curiga)

Pak Karno: Kau tentu tidak menaruh maksud lain di hatimu?

Ceng Ohkon: tiada maksud lain dari saya untuk bertemu tuan, selain harapan dan juga cinta tuan.

Pak Karno: tentu tuan, demi tanah airku ini kau jangan pernah berusaha mengingkarinya.

Ajudan: aku tak mau ambil pusing dengan segala bla bla dan blob lo.

Sementara itu, Sukarni dan beberapa lima orang pasukan di bawah atap rumah sambil pegang bendera merah putih sedang mengobrolkan sesuatu.

Sukarni: salam saudaraku semua, aku telah berkumpul di sini dengan kalian. Kalau kalian ada sesuatu perlu yang ingin dibicarakan segera dibicarakan. Selama kalian di bawah aba-abaku, sesegera mungkin dengan tangkas semua gerak-gerik kita jangan terlihat.

Ucok: memang ada apa ini, kawan?

Sukarni: aku dengar sesuatu yang genting melanda kembali. Pasukan Belanda membonceng NICA sedang mencoba mengambil negara kita ini. Lalu bagaimanakah kita bisa mengambil gerakan inovatif ini?

Udin: wah, ini bahaya.. kita mesti jaga itu Bung besar kita.

Sukarni: Iya, kita mesti jaga itu bung besar kita. Tetapi kalian tidak sekedar jaga, jaga dia dengan sepenuh hati. Kalian sanggup?

Udin: sanggup.

Sukarni: kalau kalian sanggup, ini aku berikan 3 bungkus kain merah dari sebuah peti terkubur di jalan.

Ucok: apa ini kawan?

Udin: tancap saja langsung gas, tak usah basa-basi, aku tahu itu ranjau.

Sukarni: kalian sanggup atau tidak? Kalau tak sanggup aku bisa tawarkan beberapa rekan kalian lagi untuk jaga-jaga di rumah Rengasdengklok sambil pegang ini 3 bungkusan kain merah. Kalau ternyata kok masih belum ada itu orang-orang putih tinggi datang kemari. Aku bawakan surat perintah.

Sukarni: malam ini kita harus berani sekarat. Hidup atau mati. Kita sudah pasrah sepenuhnya pada apa yang terjadi pada diri kita.

Suara tembakan mendesing di udara. Duor, duor, duor. Peluru pelor mengeluarkan bunyi mengkagetkan. Mereka lari kocar-kacir.


SELESAI

Komentar

Postingan Populer