Monolog judul Omben

 Ketika kehabisan uang, kita pasti pernah berpikir kalau kita dalam kekalutan yang sebenarnya. Saya tak bisa kalau tak merokok. Sambil menyalakan rokok, saya pun tertawa. Hahahaha, apa memang ini yang namanya hidup harus penuh dengan kisah, cerita, tertawa. Sambil menatap ke kanan, aku juga pernah terbayang, wajah wanita yang aku cintai.

Ternyata ada botol minuman di bawah kakiku. Daripada tak diambil, aku ambil saja untuk diminum. Sia-sia kalau tak diambil. Aku buka saja tutupnya. Pasti enak. Wahhh, kuminum saja. Setelah meminum ini kok rasanya jadi keinginan nambah minum terus. Tapi kepalaku kok puyeng. Rasanya Muser. Ini apa ya. Mungkin ini jamu. Atau omben sehat.

Ahhh, aku tak peduli. Yang penting ini minuman. Kan aku tidak tahu. Kuletakkan botol ini di bawah saja. Aku sebenarnya mau mengeluh, kalau aku juga punya cerita.

Waktu aku berjalan di sekitar jalanan kota, badanku terasa capek, aku pijit kok ya tidak terasa. Lalu aku minta dipijit orang sebelahku, kok ya tak terasa. Malah jadi pegel. Aku lihat lirik-lirik jalan, ada tulisan tentang Pijat Kebugaran. Aku masuk saja. Dia melayaniku dan menyambut dengan gembira.

"Mari tuan, saya pijit, badan jadi enak". Wah enak ini pasti. Saya mau saja. Dipijit badan saya enak sekali memang. Setelah itu entah kenapa dengan satu dua jari, dia buat badan saya kesemutan. Aduw, enak. "Terimakasih, pijitannnya enak". Saya lalu berpaling dari tempat itu. Saya duduk di kursi saya kembali. Saya minum minuman tadi. Enak.


2022

Komentar

Postingan Populer